Mudik

Mudik atau pulang ke kampung halaman adalah tradisi sosio-religi bagi sebagian besar masyarakat negeri ini. Pada momen mudik di H-5 sampai H-1 Idul Fitri, diperkirakan hampir 120 juta masyarakat Indonesia bergerak menuju kampung halamannya masing-masing.

Bila dikaji dari aspek bahasa, ada kata udik dalam kata mudik itu sendiri. Dalam KBBI, udik dapat diartikan kampung atau desa. Jika diterjemahkan bebas, kata mudik dapat dimaknai sebagai pulang kampung. Dalam pemaknaan Jawa, kata mudik merupakan akronim dengan kepanjangan: Mulih dhisik, maka mudik dapat diartikan juga sebagai “pulang dulu”.

Awal mula

Mudik sebagai mobiltas sosial memang baru terjadi secara massif pasca Indonesia merdeka. Pembangunan wilayah perkotaan di era pemerintahan Soeharto amat berperan dalam menumbuhkan para kelompok perantauan. Perihal alasan ekonomi, banyak masyarakat yang rela meninggalkan kampungnya (menjadi perantauan) demi meraih kesempatan lebih besar memperbaiki nasib.

Para perantauan ini mulanya datang ke kota dengan berbagai latar belakang. Ada yang modal nekat, ada yang ingin berbisnis (dagang), ikatan dinas (menjadi PNS), sekedar diajak teman, dan banyak alasan lain. Meningkatnya arus urbanisasi juga selaras dengan kepentingan ekonomi pemerintah Orde Baru. Soeharto saat itu menjadikan kota sebagai prioritas pembangunan nasional. Oleh karenanya, dengan bertambahnya jumlah pendatang, maka jumlah tenaga kerja juga bertambah, yang otomatis  juga meningkatkan laju ekonomi.

Periode 1980-an menjadi titik balik bagi para perantau secara ekonomi. Banyak dari perantau ini akhirnya memperoleh hasil finansial yang baik setelah mereka beradu nasib di kota. Tak jarang mereka menjadi ‘raja-raja’ baru di tempat yang baru mereka tinggali, seperti banyak perantau yang bermukim di wilayah Kebayoran, Jakarta. Setengah dari warga Kebayoran saat itu adalah para perantau dari luar Jakarta. Sukses dalam mengadu nasib membuat mereka kemudian menetap di daerah-daerah elit yang kini kita kenal sebagai Blok M.

Ledakan urbanisasi yang berlangsung puluhan tahun di setiap kota selanjutnya hadirkan proporsi yang berubah. Badan Pusat Statisitik (BPS) memperkirakan hari ini sebanyak 56,7% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan. Persentase ini diprediksi akan terus meningkat ke angka 66,6% di tahun 2035. Dari data yang disajikan BPS, dapat disimpulkan orang-orang yang dahulu merantau sekarang telah bertransformasi menjadi kaum urban.

Pulangnya kaum urban

Fenomena mudik yang kita kenal hari ini sejatinya tidak pernah hadir jika laju urbanisasi berjalan lambat. Menurut Jakob Soemardjo, mudik secara spesifik merupakan migrasi internal atau migrasi dalam negeri yang bersifat temporer, dimana para pelakunya dipastikan adalah para kaum urban perkotaan. Dari pola perpindahan, fenomena mudik kini juga tidak lagi bersifat Jawa sentris, karena fenomena ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Bagi kaum urban, mudik tak lagi sekedar perkara kangen dengan kampung halaman. Saat di kota, kaum urban ini lebih sering berinteraksi dengan orang yang tak sedarah. Aktivitas kesehariannya hanya bertemu dengan teman kerja serta orang-orang yang tak dikenal saat mereka berangkat dan pulang ke rumah. Mudik bagi kaum urban mewujudkan kembali memori masa lalu mereka. Merasakan kembali relasi sebagai anak, saudara, dan jalinan kekeluargaan yang lebih kuat.

Relasi kaum urban dan fenomena mudik juga memiliki keunikan mendalam. Demi menjaga identitas sebagai bagian dari keluarga besar, kaum urban yang secara administratif bukan lagi warga dari daerah tertentu (kampung halamannya) rela berbondong-bondong kembali ke tanah kelahirannya. Mudik juga dianggap sebagai cara jitu bagi beberapa orang tua dalam menarasikan perjuangan hidupnya ke anak-anak mereka.

Bila dihubungkan ke dalam teori strukturasi sosiolog Anthony Giddens, para kaum urban ini merupakan agen yang menjadi duta budaya kota secara sukarela. Ketika sampai di kampung halamannya, mereka turut membagikan impian indah hidup di perkotaan dengan segala aneka gemerlapnya. Tak sedikit juga yang menutupi kebobrokan daerah rantau agar tidak mencoreng kisah indah dirinya.

Dengan berbagai situasi, baik atau buruk, mudik telah menjadi perekat ikatan sosial bangsa. Pada akhirnya mudik menjadi jalan pulang kembali bagi setiap orang. Pulang ke rumah yang sesungguhnya rumah, lalu melebur kembali dengan kenangan manis di masa lalu.

Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts