Gaza kini telah berubah menjadi lautan darah tak terhingga. Sudah puluhan ribu korban yang jatuh saat Israel menggempur kota ini selama berbulan-bulan. Saya sendiri tak lagi menganggap semua ini sebagai suatu tragedi kemanusiaan. Dimata saya semua ini adalah aktivitas genosida yang dilakukan dengan sistematis dan tebuka oleh militer Israel. Sudah jelas, opsi penghapusan Palestina secara total merupakan opsi utama rezim Netanyahu, mereka hanya ingin Israel sebagai satu-satunya negara yang memiliki otoritas seratus persen, tanpa ada keberadaan Palestina didalamnya.
Untuk merealisasikan cita-citanya ini, Netanyahu sudah tidak lagi menggubris segala kritik dan kecaman dunia luar kepadanya. Publik dunia sekarang dapat melihat dengan mata telanjang bagaimana militer Israel telah menggempur Gaza tanpa ampun. Selain sudah tidak ambil pusing dengan kritik dan kecaman publik internasional, rezim Netanyahu juga membuang jauh aturan-aturan dalam Konvensi Jenewa, militer Israel hari ini sudah menganggap semua warga sipil Palestina sama dengan anggota HAMAS, mereka tak peduli lagi kemana arah peluru dan rudal meluncur.
Operasi militer Israel saat ini juga tidak seperti yang dahulu kita kenal. Jika dulu publik (masyarakat) Israel kurang mengikuti atau mendukung militernya dalam setiap operasi militer, kini situasinya berubah, dapat dikatakan tiga perempat masyarakat Israel mendukung penuh apa yang dilakukan oleh militer mereka. Sebagai contoh dua selebritas Gal Gadot dan Rona-Lee Shimon yang terus menyuarakan dukungannya kepada militer Israel agar dengan segera menghancurkan para elit Palestina yang dianggapnya sekumpulan teroris jahat.
Akhir Mei lalu militer Israel mengkonfirmasi bahwa telah mengakhiri operasi militernya di wilayah Gaza utara, setelah pertempuran selama dua pekan yang melibatkan lebih dari 200 serangan udara, militer Israel selanjutnya berupaya untuk menggempur berbagai front di Gaza dalam usaha memepersempit ruang gerak HAMAS. Nyatanya situasi ini menjadi kabar baik untuk Netanyahu yang menginginkan HAMAS kehilangan seluruh kendalinya di tanah Palestina. Bagi Netanyahu, “Israel without Palestine” benar-benar sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi kedepannya.
Lalu bagaimana sekarang?
Hari ini mata publik dunia tertuju ke Rafah, suatu wilayah atau tempat yang sebelum perang hanya berpopulasi sekitar 280 ribu jiwa, sekarang membengkak ke angka 1,7 juta jiwa. Bila militer Israel kian menggila, sudah dipastikan Rafah akan berubah menjadi zona kematian berikutnya. Rafah sendiri memiliki luas wilayah sekitar 63 kilometer persegi, dengan wilayah sesempit ini, sulit bagi penduduknya untuk melawan balik Israel. Rafah sengaja dijadikan target terakhir Netanyahu karena dia sadar wilayah ini merupakan kunci dari semuanya, Rafah jatuh, hilang sudah akses bantuan satu-satunya di sepanjang perbatasan jalur Gaza.
Tiga hari terakhir, socmed saya diramaikan dengan kalimat viral: “All Eyes on Rafah”, saya meyakini kalimat ini bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini adalah panggilan kemanusiaan kepada kita semua. Panggilan kepada kita semua untuk melihat bagaimana nyawa sekelompok manusia begitu direndahkan oleh sekelompok manusia lain. Panggilan kepada kita semua untuk bersama-sama melihat bahwa semua ini bukanlah konflik, tapi pembunuhan kepada sekelompok manusia secara terencana dan massif.
