“Andai dulu kita dijajah Inggris mungkin kita sekarang bisa jadi negara maju.”
Kalimat tadi nampaknya umum keluar dari mulut orang Indonesia. Masyarakat negeri ini secara umum memang melihat penjajahan Inggris amatlah berbeda dengan apa yang dilakukan Belanda. Dimata Indonesia, kolonial Belanda dulu hanya berikan hal buruk seperti eksploitasi dan penjarahan kepada orang-orang Nusantara. Pandangan ini tidaklah salah, karena memang dahulu kolonial Belanda memang bertindak sangat sewenang-wenang. Kebijakan kerja rodi serta sistem tanam paksa merupakan sedikit contoh bagaimana Belanda memperlakukan penduduk pribumi tidak dengan pendekatan kemanusiaan.
Lalu bagaimana dengan penjajahan yang Inggris buat?
Jika pertanyaan ini diberikan kepada rata-rata orang Indonesia, saya sudah memastikan bahwa publik negeri ini menganggap bahwa penjajahan yang Inggris lakukan akan membawa impact postif pada bangsa yang mereka jajah. Lucukah bila akhirnya mereka menjawab seperti itu? Saya rasa tidak. Jawaban yang menganggap bahwa penjajahan Inggris jauh lebih baik dibanding penjajahan Belanda sejatinya adalah hasil konstruksi berpikir yang kacau selama puluhan tahun. Sedari awal masyarakat kita telah gagal dalam memahami masalah secara apple to apple.
“Coba lihat Singapura, coba lihat Hongkong, berkat penjajahan Inggris mereka sekarang jadi negara maju.”, kita sering mendengar argumen ini ketika membahas kolonialisme Inggris, bagi saya yang bergelut dalam ranah sejarah, argumen tersebut sangatlah menjengkelkan. Betapa tidak adilnya saat posisi Indonesia harus disejajarkan dengan Singapura dan Hongkong yang penduduknya kurang dari 10 juta jiwa, plus memiliki perbedaan yang sangat mencolok dari sisi dinamika bangsa dan sejarahnya.
Situasi yang sama juga sering saya jumpai saat sedang mengajar di kelas, saat memasuki materi pembahasan terkait Masa Pemerintahan Raffles, kesan pertama murid-murid saya kepada sosok Raffles adalah seseorang yang elegan, beradab, dan sangat mencintai ilmu pengetahuan, namun begitu kagetnya mereka (murid) setelah meriset sosok Raffles dengan lebih mendalam, diketahui Raffles lebih tepat disebut sebagai perampok (bukan gubernur jenderal). Sudah menjadi rahasia umum saat Raffles berkuasa di Jawa, dirinya mencuri banyak situs-situs bersejarah negeri ini untuk dibawa ke negara asalnya (Inggris).
*****
Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan menarik berjudul How British Colonialism Killed 100 Million Indians In 40 Years di website Al Jazeera. Tulisan ini cukup menjadi bukti bila penjajahan Inggris memang tidak pernah berikan impact positif bagi jajahannya. Dalam tulisannya, dijelaskan bahwa saat India dijajah Inggris, negeri ini telah kehilangan 50 juta penduduknya selama periode 1891 hingga 1920. Jumlah ini hampir setara dengan seluruh korban warga sipil saat Perang Dunia II berlangsung.
Pertanyaannya, mengapa korbannya bisa sampai 50 juta penduduk? Perlu dicatat, saat Inggris berhasil menancapkan tonggak kolonialismenya di India, mereka secara paksa merebut sektor manufaktur di negeri tersebut. Seperti rezim kolonial yang lain, Inggris mengambil alih kuasa roda perekonomian di India. Laju ekonomi yang sifatnya eksploitatif kemudian diterapkan untuk masyarakat lokal. Lewat kebijakan yang kejam ini akhirnya sudah bisa kita perkirakan, orang-orang India jatuh miskin dan rentan terhadap banyak penyakit yang timbulkan kematian.
Derita masyarakat India bukan hanya hadir saat mereka dijajah oleh Inggris, pasca merdeka dari Inggris pun India masih dibelenggu oleh banyak masalah. Selain berpisahnya mereka dengan Pakistan (mayoritas Muslim), masalah ekonomi terkait kemiskinan di banyak tempat juga menjadi problem besar pasca India merdeka. Jika ada yang mengatakan bahwa Inggris membekali setiap jajahannya sebelum mereka merdeka, hal ini patut kita kritisi kembali, karena situasi di India nyatanya tidak demikian.
Kekejaman kolonial Inggris tidak hanya berlaku di India, saya bisa ambil Australia sebagai kasus yang paling berdarah. Ingat, negara Australia (white people) yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukan Australia yang sebenarnya. Sebelum kedatangan orang-orang kulit putih asal Inggris, daratan Australia sebenarnya sudah dihuni oleh penduduk asli bernama suku Aborigin.
Imigrasi massif imigran kulit putih Inggris pada periode abad 19 hingga awal abad 20 bisa disebut sebagai momen penghancuran suku Aborigin di Australia. Genosida terhadap suku Aborigin dijalankan oleh pemerintah kolonial dan masyarakat sipil (kulit putih). Tindakan jahat orang-orang kulit putih kepada suku Aborigin berjalan lewat dua hal: Pertama, genosida yang berjalan lewat pendekatan sistematis karena faktor kebijakan rasis (pemerintah kolonial), yang kedua, genosida yang berjalan secara random atas motif kebencian rasial (masyarakat sipil).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lyndall Ryan, sejarawan asal University of Newcastle, dirinya menyimpulkan bahwa pembantaian kepada suku Aborigin sangatlah terorganisir serta terdapat metode yang lebih kejam dari para pelaku dalam mengeksploitasi para korban (Aborigin). Lyndall juga melihat, kemajuan dalam pembuatan senjata api di abad 19 juga kian membuat suku Aborigin terpojok. Dengan makin canggihnya senjata api milik masyarakat kulit putih, mereka terus memaksa orang-orang Aborigin untuk pindah ke wilayah tengah benua yang tandus. Tentunya tindakan ini sengaja dilakukan oleh mereka agar suku Aborigin tidak lagi memiliki lahan produktif yang utamanya berada di wilayah pesisir.
*****
Walau masih banyak lagi kejahatan kolonial Inggris yang tersebar di dunia, kasus India dan Australia bagi saya sudah cukup untuk membuka mata dan pikiran publik untuk tidak lagi menganggap benar penjajahan Inggris. Semua penjajahan itu jahat, siapapun pelakunya. Silakan anda memilih, mau itu Inggris, Spanyol, Portugis, Prancis, Belanda, Jerman, dan Jepang, saat mereka bertindak sebagai penjajah, jelas mereka telah lakukan kejahatan kemanusiaan.
Sadar atau tidak, warisan penjajahan Inggris juga telah membuat dunia hari ini berjalan cacat dan timpang. Dalam tulisan yang berjudul: The British Empire Was Much Worse Than You Realize (dimuat oleh The New Yorker), dijelaskan bahwa imperium Inggris selama ini selalu mencitrakan dirinya sebagai imperium kolonial yang paling beradab, padahal rillnya mereka telah melakukan kerusakan di banyak tempat seperti di Timur Tengah, Afrika, Australia, India dan Irlandia. Tulisan ini juga menyimpulkan, Inggris selama ratusan tahun selalu menyembunyikan segala kejahatannya dibalik jubah prinsip-prinsip moderenitas, padahal perlakuan mereka terhadap pribumi yang sedang dijajah sangat jauh dengan prinsip yang mereka jalankan.
Terakhir, stop keluarkan pandangan yang menganggap bahwa penjajahan Inggris jauh lebih baik dari Belanda, itu fantasi konyol yang paling tidak lucu. Penjajahan Inggris tak berikan sumbangsih ideal bagi dunia selain darah dan konflik di banyak tempat. Stop juga untuk menyimpulkan bahwa Singapura merupakan produk sukses dari penjajahan Inggris. Singapura bisa besar seperti sekarang adalah hasil kerja keras Lee Kuan Yew dalam membangun Singapura dari titik nol (negara miskin), tidak ada sedikit pun sumbangsih pihak kolonial Inggris dalam membangun Singapura hingga menjadi raksasa ekonomi Asia hari ini.
Penjajahan Inggris adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi. Cukup.
