Bersemai Bersama TEMPO

Ada garis batas antara makna mengenal dan mendalami, keduanya jelas miliki tingkat keintiman yang berbeda. Secara sederhana, individu yang hanya mengenal sesuatu belum tentu mendalami, namun individu yang mendalami sesuatu sudah menuju tahap keintiman yang lebih berbeda.

Paragraf pertama yang tertulis di atas erat kaitannya dengan awal perjumpaan saya dengan majalah TEMPO. Saya mulai mengenal majalah TEMPO saat di bangku SMA, sekedar mengenal saja, karena di umur sebelia itu agak sulit bagi saya mencerna bacaan yang level-nya tergolong serius. MEDIA INDONESIA dan KOMPAS masih menjadi media cetak yang lebih sering saya baca saat masa SMA, belum terlintas untuk membaca TEMPO, karena harga majalah tersebut juga kurang bersahabat bagi kantong remaja putih abu-abu.

Tahun 2006 saya diterima di kampus Mazhab Rawamangun (baca: UNJ), lebih spesifiknya di jurusan Pendidikan Sejarah. Saya sadar, kuliah di jurusan ini memang membutuhkan banyak ‘bahan bakar’ bacaan, kadang para dosen juga memaksa kami membaca buku ini dan itu untuk meng-upgrade isi kepala. Terlepas aktivitas membaca itu bermulai dari diri sendiri atau karena faktor paksaan, saya meyakini, jika anda adalah seorang mahasiswa, membaca merupakan aktivitas wajib yang perlu ditekuni. Lucu saja jika ada mahasiswa yang mengaku dirinya agent of change tapi minim ikhtiar memperkaya isi kepalanya, meminjam pepatah orang Belanda: “Praat als een kip zonder kop.”, yang berarti: Berbicara seperti ayam tanpa kepala.

Perlu waktu bertahun-tahun untuk saya akhirnya lebih mengenal (belum mendalami) majalah TEMPO. Akhir 2009, saya sering melihat senior saya menjual majalah TEMPO ke seorang dosen. Beberapa kali saya melihat dosen ini menegur senior saya saat majalah yang ia pesan datang terlambat kepadanya. Timbul pertanyaan dalam diri saya, apa yang membuat majalah mingguan ini sebegitu penting untuk dirinya.

Setelah saya riset dari berbagai referensi dan sumber, saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya sebelumnya, apa yang membuat majalah TEMPO sebegitu penting bagi para pembaca setianya. Jawabannya adalah: TEMPO tidak sekedar menyajikan berita. Singkatnya, bila anda menyukai politik bacalah TEMPO, bila anda menyukai sastra bacalah TEMPO, bila anda menyukai film bacalah TEMPO, bila anda menyukai tulisan yang bermutu tinggi bacalah TEMPO.

Kelak saya juga mengetahui bahwa anda dikatakan sebagai penulis hebat bila karya tulisan anda masuk dalam lembaran majalah TEMPO. Intelektual kenamaan macam Ong Hok Ham, Ignas Kleden, Franz Magnis, Dawam Rahardjo, bahkan Abdurrahman Wahid (presiden ke empat) sering menulis buah pikirannya di majalah ini, tak jarang tulisan yang mereka tulis juga hadirkan diskursus di ruang nyata.

Fase untuk saya mendalami majalah TEMPO tercipta di tahun 2010 saat proses penulisan skripsi. Sebelum menyerahkan proposal skripsi, saya sangat tertarik dengan kasus pembredelan yang dialami TEMPO pada tahun 1994. TEMPO dibredel dengan tuduhan yang serius, mereka dianggap memberitakan sesuatu yang dapat mengganggu stabilitas nasional. Sudah menjadi rahasia umum, rezim Orde Baru memang amat anti bila ranah sensitif mereka dipublikasikan oleh media, terlebih jika publikasi yang media angkat begitu menyudutkan.

Ketika penulisan skripsi saya berjalan, hampir semua literatur terkait kasus pembredelan TEMPO saya lahap. Dimata saya, tim redaktur TEMPO kala itu merupakan David yang sedang melawan tirani Goliath (Orde Baru), apa yang mereka tulis sejatinya itulah yang terjadi di lapangan. Dalam setiap perlawanannya, baik dalam persidangan maupun di jalanan, Goenawan Mohamad cs tak pernah patah arang melawan rezim yang telah membungkam kebebasan pers selama puluhan tahun.

Bermodal skripsi pembredelan TEMPO, saya akhirnya lulus jenjang S1 dengan nilai memuaskan. Walau tidak tergolong sering membeli majalahnya, alias lebih sering meminjam, saya sangat berhutang budi dengan majalah ini. Lewat tulisan-tulisan dari TEMPO lah saya belajar menulis, meski saya yakini tulisan saya pun masih agak amburadul disana-sini hahaha….

Terakhir, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk majalah TEMPO! Jangan pernah lelah untuk mencerdaskan negeri ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts