Adolf Eichmann dan Banalitas Kejahatan

11 Mei 1960 menjadi hari paling sial untuk Adolf Eichmann. Penyamaran dirinya selama berbelas-belas tahun di Argentina akhirnya selesai, Eichmann diculik oleh intel Mossad dalam usaha menyeretnya ke persidangan publik di Israel. Penangkapan, interogasi, dan persidangan Eichmann dianggap sebagai misi rahasia paling ambisius pemerintah Israel. The logistics of the capture were incredible.”, menurut Guy Walters, penulis Hunting Evil: The NAZI War Criminals Who Escaped and the Quest to Bring their to Justice. “It’s like a movie plot that occurs in real life. And it woke the world up to the Holocaust., tambahnya.

Saat sampai di Israel, Adolf Eichmann dituntut atas segala kejahatannya di masa lalu. Tuduhan terhadap dirinya pun tergolong serius, dia dianggap arsitek utama Holocaust yang telah membunuh jutaan orang. Perlu diketahui, Eichmann memang bukan orang Jerman sembarangan. Ketika Jerman dibawah kekuasaan NAZI, Eichman adalah pejabat elit SS yang memiliki otoritas kepada hidup atau matinya Yahudi di Eropa. Namanya merupakan legenda gelap bagi orang-orang Yahudi kala itu, sosoknya bersinonim dengan kejahatan yang tiada tanding.

Persidangan untuk Adolf Eichmann sendiri sengaja dilakukan dengan terbuka. Pemerintah Israel menganggap skala kejahatan Eichmann sudah melewati ambang batas, maka wajar dunia perlu mengetahuinya sebagai ‘alarm’ kemanusiaan. Dalam setiap persidangan, kasus Eichmann selalu mencuri perhatian khalayak. Jurnalis, pejabat publik, akademisi, hingga orang awam datang ke persidangan untuk melihat dan mendengar segala hal terkait Eichmann yang sedang berada di kursi pesakitan.

Hannah Arendt, seorang intelektual kenamaan juga hadir untuk meliput kasus besar ini. Sebelumnya Arendt dengan sukarela mengajukan diri sebagai reporter The New Yorker agar bisa terbang ke Yerusalem. Selain lakukan tugas reportase, Arendt juga lakukan riset kepada persona jahat Eichmann di masa lalu. Di momen persidangan Eichmann menjadi sosok yang apa adanya, jawaban dirinya jarang berliku-liku dan tidak pernah membantah atas fakta yang dihadirkan. Arendt dalam liputannya berkesimpulan bahwa Eichmann bukanlah psikopat seperti yang sering dibicarakan.

Dimata Arendt, sosok Eichmann seperti manusia normal pada umumnya, bahkan dapat dikatakan sebagai sosok suami dan ayah yang baik. Lalu mengapa Eichmann dapat berada dalam top list tukang jagal NAZI?

Pertanyaan ini terjawab dalam publikasi laporan Arendt yang diterbitkan pada 1963 dengan judul: Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Pandangan Arendt di dalam laporannya disebut sebagai banalitas kejahatan. Secara sederhana, banalitas kejahatan adalah situasi dimana individu maupun kelompok tidak lagi menganggap kejahatan sebagai suatu kejahatan, bahkan mereka menganggapnya sebagai kewajaran kolektif. Pandangan ini Arendt dapatkan (selain dari Eichmann) dari orang-orang Jerman yang hidup pada masa Perang Dunia II, bagaimana individu maupun kelompok yang tidak memiliki pikiran jahat namun dapat giat berpartisipasi dalam tindak kejahatan brutal.

Belasan tahun dibawah kuasa NAZI, masyarakat Jerman memang alami degradasi karakter. Mereka sudah sulit membedakan rasa patuh (pada pemerintah) dengan perilaku jahat akibat kebijakan (sistem) yang Hitler buat. Sebagai gambaran, orang Jerman saat itu tidak akan dituntut ke pengadilan karena membunuh warga Yahudi, karena jelas, kebijakan rasial NAZI kala itu menyatakan bahwa kelompok Yahudi sebagai warga yang tidak mendapat jaminan hukum dari pemerintah. Peristiwa Kristallnacht di tahun 1938 sudah cukup untuk gambarkan situasi ini.

Arendt menemukan bahwa banalitas kejahatan menjadi kejahatan khas pada abad 20 (atau mungkin hingga hari ini). Saya sendiri meyakininya. Dalam suatu interogasi, Eichmann pernah mengatakan bahwa penyesalan terbesar dirinya bukanlah mengantar Yahudi ke alam baka, tapi dirinya menyesal kalkulasi banyaknya korban tidak membuat ia promosi ke jabatan yang lebih tinggi di SS. Eichmann akhirnya mendapat vonis mati dengan hukuman gantung yang ia terima pada tengah malam antara tanggal 31 Mei dan 1 Juni 1962.

Eichmann bukan sekedar Eichmann, lewat dirinyalah muncul makna baru bernama banalitas kejahatan yang akan menginspirasi sosok-sosok macam Pol Pot, Radovan Karadzic, dan Benyamin Netanyahu hari ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts