Umur 12 sampai 20 adalah masa dimana saya sangat menggandrungi musik. Di fase umur inilah saya mengeksplorasi segala jenis musik, dari pop hingga metal, tak jarang uang jajan pun ikutan habis karena membeli kaset musisi kesukaan.
Pada masa ini pula saya merasakan bagaimana serius atau tidaknya seseorang menyukai musisi dapat dilihat dari kepemilikan album fisik musisi tersebut, jadi anda tidak bisa mengklaim diri anda sebagai die hard fans Sheila On 7 jika tidak memiliki album mereka.
Bertumbuh kembang di periode akhir 90-an dan pertengahan 2000-an begitu membantu saya dalam menentukan arah musik yang disukai. Sudah menjadi rahasia umum di setiap kalangan bahwa periode ini merupakan momen kejayaan musik (dalam maupun luar). Banyak musisi berusaha ciptakan karya berkualitas agar karyanya dapat nongol di MTV atau minimal diputar radio-radio besar. Bagi saya yang tergolong generasi Milenial, tiada yang lebih membahagiakan saat tiba-tiba bisa menonton video clip musisi favorit di MTV, suatu element of surprise yang langsung menerjang dopamine dalam kepala.
Lalu bagaimana dengan selera musik saya hari ini?
Jawabannya adalah: Cenderung tidak berubah.
Profesi sebagai guru turut membantu saya untuk mengetahui selera musik anak-anak zaman sekarang (Gen Z). Beberapa kali saya coba mengikuti arus musik musik mereka dan hasilnya memang sedikit zonk hahaha.
Kecuali Taylor Swift, isi kepala saya nyatanya sulit menyelam dalam alunan Billie Eilish, Nicki Minac, Drake, dll. Tidak cocok dengan genre mereka? Saya rasa tidak, karena sedari awal pun saya menyukai genre pop dan rap (saya masih kuat mendengar Lose Yourself-nya Eminem hingga sepuluh kali). Sebelum tulisan ini dibuat, saya sudah meriset gejala-gejala yang tengah saya rasakan.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Deezer terhadap kurang lebih seribu responden, mereka berkesimpulan, kondisi mentoknya selera musik seseorang ini disebut sebagai musical paralysis, suatu kondisi dimana seseorang berhenti mendengarkan musik baru serta terus menerus mendengarkan musik yang itu-itu saja.
Bila dilihat dari definisi musical paralysis sebelumnya, definisi tersebut begitu relate dengan algoritma Spotify saya yang hanya muter-muter di Blur, Green Day, Blink 182, dan My Chemical Romance.
Selain merilis hasil penelitiannya, pihak Deezer juga mewawancara secara mendalam para responden terkait preferensi musik dan pola kebiasaan dalam mendengar. Hasilnya, mayoritas responden menyatakan bahwa mereka berhenti mendengarkan musik baru dan terjebak circle musik yang sama. Maka wajar alunan Drake kurang begitu nyambung dengan isi kepala saya, ya sayanya saja lebih sering mendengar teriakan Gerard Way di lagu I’m Not Okay. So, mayoritas responden ini sebenarnya representasi diri saya banget.
Penelitian Deezer juga mengungkap faktor lain di luar urusan musik itu sendiri, mereka melihat pada dasarnya orang-orang berhenti mencari musik baru bukan karena sudah tidak menyukai musik, tapi lebih ke faktor kesibukan yang kian kompleks. Sibuk dalam berkarir dan banyaknya waktu yang tersita untuk merawat anak menjadi beberapa alasan mereka berhenti mengeksplorasi musik-musik terbaru.
Sebelum penelitian Deezer dilakukan, sebetulnya sudah ada beberapa orang yang melakukan riset yang hampir sama dengan mereka. Oliver Bones dan Christopher Plack dalam tulisannya yang berjudul: Losing the Music: Aging Affects the Perception and Subcortical Neural Representation of Musical Harmony, memaparkan bahwa penuaan atau bertambahnya umur seseorang mempengaruhi kadar persepsi dan representasi pada suatu karya musik. Hal ini berujung pada generation gap yang meyakini bahwasanya musik zaman sayalah yang paling berkualitas.
Terakhir, saya berharap tulisan ini menjadi ranah yang debatable serta hadirkan perbincangan lebih lanjut. Bagi saya penelitian yang dilakukan Deezer tidak bersifat absolut, meski memang ada situasi yang menurut saya banyak orang yang mengalaminya. Mark Beaumont, seorang jurnalis musik asal Inggris menolak hasil penelitian Deezer dengan mengatakan: “I call bullshit. Being a music lover, for better or worse, is a life-long addiction.”, kata dirinya dalam artikel NME.
Sebagai rasa kecintaan saya pada musik, saya jadikan petikan lirik dari Bob Dylan sebagai penutup: “When the rain is blowing in your face. And the whole world is on your case. I could offer you a warm embrace. To make you feel my love.”.
