Dalam dua minggu terakhir saya menyimak Pandji Pragiwaksono wara-wiri di berbagai channel Youtube. Dirinya hadir di channel Total Politik, Kasisolusi, Close The Door, Abraham Samad SPEAK UP, dan acara podcast lainnya yang mungkin belum saya tonton. Dari semua podcast yang ia datangi, hampir semuanya membahas dua hal: Yang pertama masalah dinasti politik di banyak daerah dan terjunnya Marshel Widianto dalam PILKADA TANGSEL. Yang terakhir menjadi hal yang membuat saya selalu tersenyum lucu, bukan karena saya sentimen dengan Marshel, ya tapi bagi saya memang lucu.
Dalam kontestasi demokrasi, semua orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Bila dirinya merupakan warga Indonesia yang tidak cacat secara hukum, sehat secara jasmani dan pikiran, maka ia punya hak untuk maju ke kontestasi demokrasi agar dipilih oleh rakyat. Yang patut kita garis bawahi, tidak cacat secara hukum serta sehat secara jasmani dan pikiran sejatinya standar minimal seseorang saat terjun ke dunia politik, ini memang persyaratan normal yang hampir semua orang punya dan bisa lakukan (termasuk anda).
Problemnya kini: Apakah kita mau demokrasi negeri ini hanya melahirkan para pemimpin dengan kualitas standar minimal? Alias minim kompetensi dan tidak jelas rekam jejaknya.
Dicalonkannya Marshel dalam PILKADA TANGSEL jelas keputusan serampangan dan tanpa kalkulasi. Partai Gerindra menjadi pihak yang paling bertanggung jawab, karena merekalah yang pertama mencalonkan Marshel. Sekali lagi saya tidak ada sentimen pribadi dengan Marshel, namun yang patut kita kritisi adalah gagalnya partai politik dalam memberikan figur berkualitas kepada masyarakat (pemilih).
Suka atau tidak, partai politik Indonesia hari ini cenderung pragmatis dalam setiap hajatan demokrasi, baik itu di PEMILU atau di tingkat PILKADA. Kemenangan dianggap sebagai tujuan akhir politik praktis. Memilih sosok (sekedar) populer menjadi jalan pintas mereka (partai politik) agar tujuan politik praktisnya tercapai. Jika sosok calonnya sudah populer dan dikenal publik, otomatis 50% kemenangan sudah terkunci, fenomena sesat pikir inilah yang sedang membelenggu mayoritas partai politik di Indonesia.
Saat ini Marshel hampir pasti melaju dalam PILKADA TANGSEL, Gerindra dan Demokrat sudah ketuk palu untuk menjadi promotor dirinya. Banyak pengamat juga sudah memberikan analisis bahwa Marshel sangat berpeluang dalam memenangkan PILKADA nanti. Marshel sendiri kini sudah mulai tidak ragu mem-branding dirinya sebagai calon pemimpin masa depan. Entahlah, apakah ini keseriusan atau hanya gimmick untuk mencuri perhatian publik.
Terakhir, sampai hari ini saya tetap meyakini adagium Latin yang berbunyi: “Eget semper qui avarus est.”, yang dalam bahasa Indonesia berarti: “Orang yang rakus selalu menginginkan lebih banyak.”. Apakah di posisi ini Marshel terkesan rakus karena ingin meraih sesuatu di luar kompetensinya? Hanya diri Marshel sendiri yang bisa menjawab.
