Komeng: A New Hope

Foto: Alfiansyah Komeng

Tanpa kampanye, tanpa baliho, tanpa uang, dan tanpa ini itu.

Komeng memang kurang ajar, modal dirinya hanya kenekatan, namun kenekatan inilah yang membuat ia sukses melenggang ke Senayan tanpa perlawanan berarti. Suara yang Komeng raih sampai tulisan ini dibuat sudah mencapai angka 1.798.455 suara, angka yang setara dengan 40% populasi penduduk negara Singapore.

Untuk bisa meraup suara lebih dari satu juta pemilih bukanlah perkara mudah. Para politisi senior yang selama ini wara-wiri di parlemen saja rata-rata cuma mentok di angka lima puluh ribu sampai seratus ribu suara untuk lolos ke Senayan. So, apa yang dilakukan Komeng dalam PEMILU 2024 sangatlah mendobrak status quo. Komeng tidak membutuhkan strategi yang terlampau serius (malah terkesan cuek), ia cukup jalankan strategi yang dulu merupakan program acaranya, Spontan!

Lewat strategi spontannya, lagi-lagi saya katakan Komeng sungguh kurang ajar. Bagaimana tidak, saking spontannya menjalani politik praktis sebagai calon DPD Jawa Barat, ia berpose jenaka dalam lembar kertas pencoblosan, di saat kandidat lain berpose dengan tampilan penuh wibawa (baca: sangat berharap dicoblos). Cukup satu kata untuk menggambarkan kegilaan yang telah Komeng lakukan, UNPREDICTABLE!

Setelah memastikan lolos ke Senayan, publik kini menanti ‘keusilan’ apalagi yang akan Komeng buat jika sudah di parlemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa parlemen kita dipenuhi kontestasi kelucuan tingkat tinggi, jadi bisa dibayangkan bila Komeng sudah turut hadir di sana. Saya membayangkan skenario nakal seperti ini, saat bapak Prabowo dilantik sebagai presiden lalu jam sudah menunjukan pukul 12.00 WIB, tiba-tiba Komeng mengaktifkan mic dan bilang: “Interupsi bapak presiden yang terhormat, kayaknya udah jam 12, sekedar ngingetin aja, makan siang gratisnya jadi apa enggak ya? Kalo enggak, ya saya mending makan di Kharisma Bahari depan aja.”.

Komeng hari ini adalah representasi dari sebenar-benarnya apa yang kita sebut sebagai Kun Fayakun, bila Tuhan sudah berkehendak, maka itu sudah menjadi ketetapan yang pasti. Tak usahlah kita menanyakan lagi ketetapan ini dengan tiga kata berujung tanda tanya seperti: “Kok bisa ya?”. Ingat, sebelum Komeng, dunia sudah lebih dulu mengenal Zelensky, seorang komedian yang kini menjadi orang nomor satu di Ukraina.

Terakhir, saya sengaja menamakan judul tulisan ini KOMENG: A NEW HOPE, judulnya hampir serupa dengan judul yang dimuat oleh majalah TIME pada 2014 (untuk seseorang). Saya meyakini Komeng akan hadirkan warna baru dalam iklim demorasi kita, kejenakaan dirinya adalah harapan baru dari segala harapan yang telah musnah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts