The End of History And The Last Man adalah magnum opus karya Francis Fukuyama yang sempat saya baca di jenjang S1. Buku ini berisi pemaparan Fukuyama terkait liberalisme dan kapitalisme sebagai ujung tombak peradaban global (pasca hancurnya Soviet). Paparan Fukuyama dalam buku tersebut sangatlah debatable bila kita memakai konteks sekarang. Walau telah memenangkan pertempuran ideologi dengan Uni Soviet, toh hari ini Amerika Serikat (pemimpin liberalisme dunia) sudah masuk dalam babak pertempuran baru melawan China di ranah ekonomi.
Banyak pakar di setiap diskursus yang mengkritik The End of History And The Last Man, mereka menganggap isi dalam buku ini terlampau mengagungkan liberalisme dan kapitalisme Barat secara serampangan. Menyimpulkan kekalahan Uni Soviet atas Amerika Serikat dalam pertempuran ideologi sebagai akhir dari sejarah memang terkesan konyol bila kita kaji dari berbagai aspek. Dalam bukunya yang berjudul A Study of History, Arnold J. Toynbee melihat bahwa setiap peradaban selalu ada di pola: Lahir, bertumbuh, runtuh, dan hancur, jadi tiada satu imperium pun yang akan terus eksis dan bertahan selamanya, termasuk Amerika Serikat sendiri.
Namun bagaimana jika Amerika Serikat sebagai super power dunia hancur dalam waktu dekat? Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam film Civil War arahan sutradara Alex Garland.
Civil War merupakan film yang paling saya tunggu (selain Kingdom of The Planet of The Apes) di tahun 2024 ini. Dari cuplikan trailer sudah terlihat rumah produksi A24 menjadikan Civil War sebagai project serius mereka, terbukti film ini adalah film dengan budget termahal yang pernah mereka buat. Premis dalam Civil War begitu sederhana, secara garis besar film ini mengisahkan bagaimana Amerika Serikat alami perang saudara seperti yang terjadi di abad 19, namun dengan tensi pertumpahan darah yang lebih kejam.
Alkisah kebencian telah mengakar kuat di beberapa penjuru Amerika Serikat, Garland sebagai penulis dan sutradara tak menjabarkan alasan pastinya, yang jelas front perlawanan dari negara bagian Texas dan California berupaya untuk meruntuhkan kekuasaan presiden di Washington DC. Garland memang sengaja menciptakan situasi distopia dalam film ini, bagaimana dirinya menggambarkan situasi Amerika Serikat yang kacau, tanpa hukum, serta sulit untuk dipulihkan, bahkan ada satu scene aksi genocide yang dilakukan sekelompok militer.
Dalam jajaran cast, Civil War hadirkan Kirsten Dunst (jurnalis Lee), Wagner Moura (jurnalis Joel), lalu bintang muda Cailee Spaeny (Jessie) sebagai tiga karakter utama. Ketiga karakter ini berperan sebagai jurnalis perang yang meliput secara live konflik antara militer pemerintah versus militer pemberontak di setiap wilayah negara bagian yang mereka lalui. Ketiganya juga sama-sama miliki impian untuk menjadi jurnalis pertama yang meliput runtuhnya pemerintahan Amerika Serikat.
Selama 109 menit, Civil War menempatkan kondisi tiap karakternya dalam posisi kritis, hal ini sesuai dengan ide-ide Garland tentang bagaimana situasi negeri yang dikendalikan oleh kebencian akut. Walau penonton tidak mengetahui alasan konflik ini terjadi, tapi penonton akan disuguhi oleh tipikal manusia yang hanya ingin menikmati rasanya membunuh manusia lain, seakan orang-orang ini cuma sekedar ingin meluapkan kemarahannya lewat perang.
Civil War nyatanya dapat dieksekusi dengan baik oleh Garland, sering kita temui film dengan premis bagus (seperti The Purge) justeru malah berakhir buruk saat proses eksekusi, bagi saya Civil War menghadirkan beauty dari sebuah kehancuran. Saya tidak mengetahui apakah Fukuyama sudah menonton film ini, bila dirinya menonton, saya berani jamin ia akan meninjau ulang tulisan dalam bukunya.
Untuk Civil War saya berikan skor: 8/10
